Makalah Psikologi Dewasa Awal


DEWASA AWAL

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas Psikologi Dasar semester 1

Dosen pengampu : Aulia Kirana

Disusun Oleh

Ittaq Amri Azalista

PROGRAM STUDI GIZI D3 FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Peralihan dari ketergantungan kemasa mandiri baik dari ekonomi, kebebasan menentukan diri, dan pandangan masa depan lebih realistis.

Secara hukum dewasa awal sejak seseorang menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah) atau sejak seseorang menikah (meskipun belum berusia 21 tahun). Sedangkan dari lingkup pendidikan yaitu masa dicapainya  kemasakan kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil ajar latih yang ditunjang kesiapan. (Mappiare 15:1983)

Orang dewasa muda termasuk masa transisi baik secara fisik, intelektual, peran sosial dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.

Beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu nantinya dikatakan bahwa dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperoleh. (Hurlock : 1993)

Dewasa awal merupakan masa dari perkembangan fisik yang mengalami degradasi mengikuti umur seseorang. Pada masa dewasa awal motivasi untuk meraih sesuatu hal sangat besar yang diduking oleh kekuatan fisik yang prima.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dewasa awal ?
    2. Apa ciri-ciri perkembangan dewasa awal ?
    3. Apa tugas perkembangan dewasa awal ?
  1. C.    Tujuan Penulisan
    1. Mengetahui pengertian dewasa awal
    2. Mengetahui ciri-ciri perkembanagn dewasa awal
    3. Mengetahui tugas perkembangan dewasa awal
  1. D.    Manfaat Penulisan
    1. Mengetahui berbagai pengertian dewasa awal dari beberapa ahli, ciri-ciri perkembangan dewasa awal serta tugas-tugas perkembangan dewasa awal.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Dewasa Awal

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri yang didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental ege-nya.

Dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru, dan harapan-harapan sosial yang baru. (H. S. Becker)

Seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi yaitu merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri krena berbeda dengan orang lain. ( Erickson dalam Monks, Knoers dan Haditono : 2001)

Menurut Havighurst ( dalam Monks, Knoers dan Haditono : 2001) tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tanggung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan.

Masa dewasa awal atau “early adultood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kita umur usia empat puluh tahun ( dialami seseorang sekitar dua puluh tahun). (E. B. Hurlock, 1993)

Masa dewasa awal adalah masa kelanjutan dari masa remaja, sehinnga ciri-ciri masa remaja tidak jauh berbeda dengan perkembangan remaja.

  1. B.     Ciri-ciri Perkembangan Dewasa Awal

Ciri-ciri kematangan dewasa awal menurut pendapat Anderson (dalam Mappiare :17)

  1. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi
  2. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efisien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefinisikan secara cermat dan tahu mana yang pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya.
  3. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan orang lain.
  4. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan.
  5. Menerima kritik dan saran; oarang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik dan saran orang lain demi peningkatan dirinya.
  6. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mai memberi kesempatan pada orang-orang lain membantu usaha-usahanya untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sungguh, sehingga untuk itu dia menerima bantuan orang lain. Tetapi tetap dia bertanggung jawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya.
  7. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; oarang yang matang memiliki ciri fleksibel dan dapat menempatkan diri seirama dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dalam situasi-situasi baru.

Banyak di antara ciri penting dalam masa dewasa ini merupakan kelanjutan dari ciri-ciri yang terdapat dalam masa remaja. Beberapa di antaranya menunjukkan penonjolan ciri yang membedakan dengan masa-masa sebelumnya.

Ciri-ciri yang menonjol dalam masa dewasa awal yang membedakannya denag masa kehidupan yang lain, nampak dalam peletakan dasar dalam banyak aspek kehidupan, melonjaknya persoalan hidup yang dihadapi dibandingkan denga remaja akhir dan terdapatnya ketegangan emosi.

Sebagai kelanjutan masa remaja, masa dewasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Usia reproduktif

Masa ini ditandai dengan membentuk rumah tangga, maka orang dewasa yang bersangkutan mempersiapkan diri mengambil peranannya sebagai orang dewasa. Ada pula beberapa orang dewasa awal yang tidak kawin sampai mereka menyelesaikan pendidikan tau karier, keadaan ini terjadi pula bagi beberapa pria.

  1. Usia memantapkan letak kedudukan

Dengan pemantapan kedudukan, seseorang berkembang pola hidupnya secara individual, yang dapat menjadi ciri khas seseorang sampai akhir hayat. Banyak pula situasi yang membutuhkan perubahan-perubahan dalam pola hidup tersebut. Sebaliknya, jika seseorang memperoleh kedudukan yang tidak selaras dengan apa yang diingininya, kemampuan-kemampuannya dan minat-minatnya, maka sangat mungkin akan mendatangkan ketidakpuasan terhadap kedudukan bagi yang bersangkutan.

  1. Usia banyak masalah

Banyak persoalan baru yang dialami. Persoalan yang dihadapi seperti masalah jabatan dan pekerjaan, pemilihan teman hidup serta persoalan keuangan.

  1. Usia tegang dalam hal emosi

Banyak diantaranya dewasa muda ini mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialami seperti masalah keuangan, jabatan perkawinan dan sebagainya. Menurut R. J. Havighurst dalam “ Human Development and Education” (1953), bahwa seseorang dalam seseorang dalam usia awal atau pertengahan tiga puluhan telah akan dapat memecahkan persoalan-persoalan serta cukup dapat mengendapkan ketegangan emosinya, sehingga seseorang dapat mencapai emosi yang stabil.

  1. Kesimpulan dan pengharapan

Masa dewasa awal merupakan usia pemantapan letak kedudukan adalah benar. Akan tetapi pemantapan kedudukan itu akan dapat dicapai seseoarang jika sejak masa remajanya mempersiapkan diri dalam banyak kemampuan.

  1. C.    Tugas – tugas Perkembangan Dewasa Awal

Optimalisasi perkembangan dewasa wal mengacu pada tugas – tugas perkembangan dewasa awal menurut R. J.Havigurst(1953:9) mengemukakan rumusan tugas – tugas perkembangan dalam masa dewasa awal sebagai berikut :

  1. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri )
  2. Belajar hidup bersama dengan suami atau istri
  3. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
  4. Belajar mengasuh anak – anak
  5. Mengelola rumah tangga
  6. Mulai bekerja dalam suatu jabatan
  7. Mulai bertanggung jawab sebagai warga negara secara layak
  8. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai – nilai pahamnya
  1. Penunjang tugas – tugas penguasaan perkembangan

Faktor yang sangat penting dalam menunjang penyesuaian terhadap tugas perkembangan meliputi efisiensi fisik, kemampuan motorik dan kemampuan mental.

1)      Efisiensi fisik

Efisiensi fisik dicapai dalam usia – usia pertengahan 20an. Setelah itu kemampuan – kemampuan fisik secara umum mulai menurun sampai usia sekitar 40 sampai 45 tahun. Dalam masa dewasa awal, terutama pada tahun – tahun pertamanya keadaan fisik yang fit dapat mengatasi persoalan yang timbul.

2)      Kemampuan motorik

Kemampuan motorik yang mencapai kesempurnaan dalam masa dewasa awal adalah satu diantara faktor yang menunjang pelaksanaan tugas – tugas perkembangan. Dengan keadaan fisik yang kuat dan tatarata kesehatan yang baik memungkinkan mereka melatih keterampilan – keterampilannya secara lebih baik dibandingankan dengan masa remaja mereka.

3)      Kemampuan mental

Kemampuan mental yang dimiliki dalam masa dewasa awal sangat penting dalam menyesuaikan diri terhadap tugas – tugas perkembangan. (Arthur T. Jersild,1978 )

Kemampuan mental tersebut mencakup penalaran dengan menggunakan analogi, mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, berfikit secara kreatif.

  1. Penghambat – penghambat dalam menguasai tugas perkembangan

Ada banyak penghambat dalam usaha menguasai tugas – tugas perkembangan. diantara penghambat yang sangat penting sehingga menyukarkan penguasaan tugas – tugas perkembangan adalah :

1)      Latihan yang tidak berkesinambungan

Salah satu penghambat penguasaan tugas – tugas perkembangan dewasa awal, berhubungan erat dengan pengalaman – pengalaman belajar dan latihan masa lalu.

2)      Adanya perlindungan yang berlebihan

Dalam lingkungan kebudayaan negara manapun selalu terdapat orang tua yang memiliki pola mendidik anak terlalu melindungi. Anak kurang mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan mencoba – coba sesuatu dan melatih kemampuan dan keterampilan – keterampilannya, tidak sempat belajar mengambil keputusan sendiri sehingga menimbulkan berbagai kesukaran bagi anak jika mereka dewasa.

3)      Adanya perpanjangan pengaruh – pengaruh peer grup

Sejak remaja awal seseorang yang normal membentuk kelompok –kelompok teman sebaya. Dalam kelompok tersebut para remaja saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Para anggotanya sangat takut jika ditolak oleh kelompok jika memiliki nilai yang berbeda dengan nilai kelompok.

4)      Aspirasi – aspirasi yang tidak realistis

Kesukaran penyesuaian dalam masa dewasa awal dapat ditimbulkan oleh konsep – konsep yang tidak realistis dalam benak para dewasa awal tentang apa yang diharapkan dengan apa yang dapat dicapainya.

Orang – orang dewasa awal akan mengalami hambatan untuk memperolah pasangan atau teman hidup dalam melaksanakan tugas – tugas perkembangannya.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari masa ketergantungan menuju kemandirian. Sehingga masa dewasa awal merupakan masa yang paling penting dalam hidup seseorang. Selain itu juga mengalami transisi secara fisik, intelektual dan peran sosial. Masa ini kematangan emosi memegang peranan yang sangat penting, sehingga harus bisa menempatakan dirinya pada situasi yang berbeda. Pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang di perolahnya.

  1. B.     Saran
    1. Masa dewasa awal harus mampu mengatur hidup dan bertanggung jawab dangan kehidupannya.
    2. Masa dewasa awal harus mempunyai sifat kemandirian, baik dari segi ekonomi, emosi, pekerjaan, perkawinan dan sebagainya
    3. Pengoptimalan perkembangan dewasa awal harus mampu mengarah pada hubungan sosial serta perkembangan intelektual.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B. 1993. Psikologi Perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta : Erlangga

Kenny, James. 1991. Dari Bayi sampai Dewasa. Jakarta : Gunung Mulia

Mamppiare, Andi. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional

Monks, F.J, dkk. 2001. Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gajah Mada University Pers

Iklan

Makalah Psikologi Dewasa Akhir


DEWASA AKHIR

untuk memenuhi tugas psikologi

Disusun oleh:

Tiara Rizky Nur Amalia

Devani Chintiabadi

Puput Lestari

Ratih Ayu Wulandari

Fauzia Salma

Dosen Pembimbing

Aulia Kirana

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Fakultas Ilmu Kesehatan

Jurusan Gizi D3

Tahun 2012/2013

DAFTAR ISI

Daftar isi…………………………………………………………………………………………i

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah……………………………………………………………………..1

1.2  Tujuan Makalah………………………………………………………………………………1

1.3  Rumusan Masalah……………………………………………………………………………1

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dewasa Akhir…………………………………………………………………….2

2.2 Perkembangan Dewasa Akhir…………………………………………………………………3

2.2.1 Perkembangan Fisik…………………………………………………………………3

2.2.2 Perkembangan Kognitif……………………………………………………………..3

2.2.3 Perkembangan Psikis dan Intelektual……………………………………………….4

2.2.4 Perkembangan Emosional……………………………………………………………4

2.2.5 Perkembangan Spiritual……………………………………………………………..5

2.2.6 Perkembangan Minat………………………………………………………………..5

2.2.7 Perkembangan Kepribadian…………………………………………………………5

2.3 Teori Perkembangan Menurut Erikson………………………………………………………..6

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………8

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia kemunduran´ yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.

Seiring dengan pertumbuhan seseorang, usia merekapun juga bertambah. Dari anak-anak, remaja awal, remaja akhir, dewasa awal, dewasa madya, dan dewasa akhir. Perubahn ini juga diikuti dengan perubahan lainnya, yaitu perubahan fisik dan perubahan intelektual

Perubahan Fisik yang semakin menua akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkunganya. Dengan semakin lanjut usia seseorang secara berangsur-angsur ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan  menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sehingga hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai hal yaitu: kehilangan peran ditengah masyarakat, hambatan kontak fisik dan berkurangnya komitmen.

Perubahan intelektual, pada umumnya orang percaya bahwa proses belajar, memori, dan intelegensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus bertambahnya usia.
Kecepatan dalam memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Selain itu, orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya. Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada masa dewasa akhir.

Dengan adanya perubahan ini, maka terkadang membuat orang-orang yang telah masuk dalam fase ini menjadi menarik diri dari lingkungannya.

1.2  Tujuan

Mengetahui perkembangan apa saja yang terjadi saat kita telah memasuki masa dewasa akhir

1.2. Rumusan masalah

– Apa pengertian dewasa akhir?

– Perkembangan apa saja yang dilalui pada masa dewasa akhir?

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN DEWASA  AKHIR

Menurut Erikson tahap dewasa akhir memasuki tahap integrity vs despair yaitu kemampuan perkembangan lansia mengatasi krisis psikososialnya. Banyak stereotip positif dan negatif yang mampu mempengaruhi kepribadian lansia. Integritas ego penting dalam menghadapi kehidupan dengan puas dan bahagia. Hal ini berdampak pada hub.sosial dan produktivitasnya yang puas. Lawannya adalah despair yaitu rasa takut mati dan hidup terlalu singkat, rasa kekecewaan. Beberapa cara hadapi krisis dimasa lansia adalah tetap produktif dalam peran sosial, gaya hidup sehat, dan kesehatan fisik.

Menurut J.W. Santrock (J.W.Santrock, 2002, h.190), ada dua pandangan tentang definisi orang lanjut usia atau lansia, yaitu menurut pandangan orang barat dan orang Indonesia. Pandangan orang barat yang tergolong orang lanjut usia atau lansia adalah orang yang sudah berumur 65 tahun keatas, dimana usia ini akan membedakan seseorang masih dewasa atau sudah lanjut. Sedangkan pandangan orang Indonesia, lansia adalah orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Lebih dari 60 tahun karena pada umunya di Indonesia dipakai sebagai usia maksimal kerja dan mulai tampaknya ciri-ciri ketuaan.

Menurut Hurlock (2002), tahap terakhir dalam perkembangan ini dibagi menjadi usia lanjut dini yang berkisar antara usia enampuluh sampai tujuh puluh tahun dan usia lanjut yang dimulai pada usia tujuh puluh tahun hingga akhir kehidupan seseorang. Orangtua muda atau usia tua (usia 65 hingga 74 tahun) dan orangtua yang tua atau usia tua akhir (75 tahun atau lebih) dan orang tua lanjut (85 tahun atau lebih) dari orang-orang dewasa lanjut yang lebih muda.

Ciri-ciri dewasa akhir:
1.  Adanya periode penurunan atau kemunduran. Yang disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis.
2. Perbedaan individu dalam efek penuaan. Ada yang menganggap periode ini sebagai waktunya untuk bersantai dan ada pula yang menganggapnya sebagai hukuman.
3.  Ada stereotip-stereotip mengenai usia lanjut. Yang menggambarkan masa tua tidaklah menyenangkan.
4.  Sikap sosial terhadap usia lanjut. Kebanyakan masyarakat menganggap orang berusia lanjut tidak begit dibutuhkan katena energinya sudah melemah. Tetapi, ada juga masyarakat yang masih menghormati orang yang berusia lanjut terutama yang dianggap berjasa bagi masyarakat sekitar
5. Mempunyai status kelompok minoritas. Adanya sikap sosial yang negatif tentang usia lanjut.
6.  Adanya perubahan peran. Karena tidak dapat bersaing lagi dengan kelompok yang lebih muda.
7. Penyesuaian diri yang buruk. Timbul karena adanya konsep diri yang negatif yang disebabkan oleh sikap sosial yang negatif.
8. Ada keinginan untuk menjadi muda kembali. Mencari segala cara untuk memperlambat penuaan.
Adapun tugas perkembangan pada masa dewasa akhir ini, diantaranya:
• Menciptakan kepuasan dalam keluarga sebagai tempat tinggal di hari tua.
• Menyesuaikan hidup dengan penghasilan sebagai pensiunan
• Membina kehidupan rutin yang menyenangkan.
• Saling merawat sebagai suami-istri
• Mampu menghadapi kehilangan (kematian) pasanan dengan sikap yang positif (menjadi janda atau duda).
• Melakukan hubungan dengan anak-anak dan cucu-cucu.
• Menemukan arti hidup dengan nilai moral yang tinggi.

2.2 PERKEMBANGAN DEWASA  AKHIR

2.2.1 Perkembangan Fisik

Pada masa lansia terlihat pada perubahan perubahan fisiologis yang bisa dikatakan mengalami kemunduran, perubahan perubahan biologis yang dialami pada masa lansia yang terlihat adanya kemunduran tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan terhadap kondisi psikologis.
Menurut Hurlock (1980) terjadi perubahan fisik berupa penampilan pada usia dewasa akhir, diantanya adalah :
1.  Daerah kepala
2.  Daerah Tubuh
3.  Daerah persendian

2.2.2        Perkembangan Kognitif

  • Kecerdasan dan Kemampuan Memproses
    Kecepatan memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Ada beberapa bukti bahwa orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya. Meskipun kecepatan tersebut perlahan-lahan menurun, namun terdapat variasi individual di dalam kecakapan ini. Dan ketika penurunan itu terjadi hal ini tidak secara jelas menunjukkan perngaruhnya terhadap kehidupan kita dalam beberapa segi substansial.
  • Pekerjaan dan Pensiun
    Pekerjaan
    Pada tahun 1980-an, persentase laki-laki berusia di atas 65 tahun yang tetap bekerja purna waktu lebih kecil dibanding pada awal abad 20. Penurunan yang terjadi dari tahun 1900 sampai tahun 1980-an sebesar 70% (Douvan, 1983).
    Satu perubahan penting dari pola pekerjaan orang-orang dewasa lanjut adalah meningkatnya perkejaan-pekerjaan paruh waktu. Mis: dari tiga juta lebih orang dewasa berusia di atas 65 tahun yang pekerja pada tahun 1986, lebih dari separuhnya merupakan pekerja-pekerja paruh waktu.

Pensiun
Pensiun merupakan ide yang relatif baru. Ide ini baru menampakkan efeknya di banyak negara maju sepanjang abad kesembilan belas dan awal abad dua puluh ketika harapan hidup meningkat. Di Amerika Serikat, depresi ekonomi 1930 merupakan pendorong sistem pengamanna sosial, yang bersama dengan perusahaan yang mensponsori rencana pensiun yang telah dinegosiasi dengan serikat buruh- memungkinkan banyak pekerja lansia yang pensiun dengan keamanan kondisi keuangan. Akhirnya, pensiun wajib pada usia 65 tahun menjadi sesuatu yang hampir unversal.

Lingkungan Sosial Orang Dewasa Lanjut
Salah satu teori sosial mengenai penuaan adalah teori pemisahan (disengagement theory) menyatakan bahwa orang-orang dewasa lanjut secara perlahan-lahan menarik diri dari masyarakat (Cumming & Henry, 1961).

Penghasilan
Orang usia lanjut yang miskin merupakan pusat perhatian khusus. Pada tahun 1988, 3.482.000 orang usia 65 tahun dan di atasnya di AS diklasifikasikan miskin oleh pemerintah federal.
Dapat dipahami bahwa orang lansia mengkhawatirkan pendapatan mereka. Rata-rata pendapatannya hanya sekitar setengah dari apa yang mereka dapatkan ketika masih bekerja secara penuh.

  • Pengaturan Tempat Tinggal
    Satu stereotipe dari para lansia adalah bahwa mereka tinggal di dalam institusi-institusi-rumah sakit, rumah sakit jiwa, panti jompo (nursing home), dan sebagainya.
    Semakin tua seseorang, semakin besar hambatan mereka untuk tinggal sendirian. Mayoritas orang dewasa lanjut yang tinggal sendirian adalah janda, tinggal sendirian sebagai orang dewasa lanjut tidaklah berarti kesepian. Karena para lansia yang dapat menopang dirinya sendiri ketika hidup sendiri seringkali memiliki kesehatan yang baik dan sedikt ketidakmampuan, dan mereka selalu memiliki hubungan sosial dengan sanak keluarga, teman-teman, dan para tetangga.

2.2.3        Perkembangan Psikis dan Intelektual

Menurut david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan mental    merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum, hampir sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai puncak pada usia antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang secara terus menerus mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang lansia.
Kemerosotan intelektual lansia ini pada umumnya merupakan sesuatau yang tidak dapat dihindarkan, disebabkan berbagai faktor, seperti penyakit, kecemasan atau depresi. Tatapi kemampuan intelektual lansia tersebut pada dasarnya dapat dipertahankan. Salah satu faktor untuk dapat mempertahankan kondisi tersebut salah satunya adalah dengan menyediakan lingkungan yang dapat merangsang ataupun melatih ketrampilan intelektual mereka, serta dapat mengantisipasi terjadinya kepikunan.

2.2.4        Perkembangan Emosional
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi (Widyastuti, 2000). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.
Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan fungsional, keadaan depresi dan ketakutan akan mengakibatkan lanjut usia semakin sulit melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga lanjut usia yang masa lalunya sulit dalam menyesuaikan diri cenderung menjadi semakin sulit penyesuaian diri pada masa-masa selanjutnya.
Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan akibat perubahan perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.

2.2.5        Perkembangan Spiritual
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan memberikan ketenangan batiniah, khususnya bagi para Lansia. Rasulullah bersabda “semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental.

2.2.6        Perkembangan Minat
1. Minat dalam diri sendiri: orang menjadi semakin dikuasai oleh diri sendiri apabila semakin tua
2. Minat terhadap pakaian: minat terhadap pakaian tergantung pada sejauh mana orang berusia lanjut terlibat dalam kegiatan sosial
3. Minat terhadap uang: pensiun atau pengangguran mungkin akan menjalani masa tuanya dengan pendapatan yang kurang bahkan mungkin tanpa pendapatan samasekali.
4. Minat untuk rekreasi :beberapa perubahan dalam kegiatan sering dilakukan karena memang tidak dapat dielakkan
5. Minat keagamaan, dalam hal ini beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang usia lanjut temyata tidak harus selalu semakin kuat kehidupan keagamaannya. Disimpulkan bahwa kehidupan beragama ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana individu tersebut menjalankan kehidupan beragama di masa sebelumnya
6. Minat untuk mati, beberapa pertanyaan sering kali banyak menghinggapi pikiran para lanjut usia ini antara lain, kapan saya akan mati ?, apa yang menyebabkan kematian saya nanti ?, apa yang bisa saya lakukan terhadap kematian seperti yang saya inginkan ?, atau apakah saya dibenarkan untuk bunuh diri ?, bagaimana saya dapat mati dengan cara yang baik?.
7. Minat untuk makan sering kali sangat berkurang. Hal ini banyak disebabkan karena masalah gigi, gusi dan sistem pencemaan. Sehingga ini juga menyebabkan terjadinya ketegangan dengan mereka yang mengurus/menyediakan makanan tersebut.

2.2.7        Perkembangan Kepribadian
Perkembangan ini merujuk kepada teori psikoanalisa; Freud, Roger, dan Erikson

• Freud
Percaya bahwa pada usia lanjut, kita kembali kepada kecenderungan2 narsistik masa kanak-kanak awal (Santrock, 2002: 250).
Artinya tindakan yang dibuat harus diperlihatkan kepada orang lain. Ketika itu tidak bisa dilakukan maka tidak akan memperoleh kepuasan.

• Carl Jung
Mengatakan bahwa pada usia lanjut, pikiran tenggelam jauh di dalam ketidaksadaran (Santrock, 2002: 250).
Berdasarkan pendapat Jung ini, mungkin saja hal ini yang membuat orang yang sudah tua mudah lupa, karena sulit untuk memanggilnya kembali ke alam sadar.
Hal ini mungkin saja disebabkan oleh sedikitnya kontak dengan realitas, sehingga pikirannya terpendam dalam ketidaksadaran

• Erikson
Integritas Vesus Keputusasaan
Percaya bahwa masa dewasa akhir dicirikan oleh tahap terakhir dari delapan tahap siklus kehidupan.
Tahun-tahun akhir kehidupan merupakan suatu masa untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan selama hudupnya. Jika kehidupan sebelumnya dapat dijalani dengan baik maka akan merasakan kepuasan/integritas pada masa tuanya, dan sebaliknya. Mereka mengeluh sangat pelupa, kesulitan dalam menerima hal baru. Dan mereka juga merasa tidak tahan dengan tekanan, perasaan seperti ini membentuk mental mereka seolah tertidur, dengan keyakinan bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk mengerjakan hal tertentu, mereka menarik diri dari semua bentuk kegiatan.

2.3 TEORI PERKEMBANGAN MENURUT ERIKSON

Perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1. Perkembangan Keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Orang-orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang lainakan terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa akhir.
2. Perkembangan Generatif
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang dialami individu selama masa pertengahan masa dewasa. Ketika seseorang mendekati usia dewasa akhir, pandangan mereka mengenai jarak kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang kehidupan dalam pengertian waktu masa anak-anak, seperti cara anak muda memandang kehidupan, tetapi mereka mulai memikirkan mengenai tahun yang tersisa untuk hidup. Pada masa ini, banyak orang yang membangun kembali kehidupan mereka dalam pengertian prioritas, menentukan apa yang penting untuk dilakukan dalam waktu yang masih tersisa.

  1. Perkembangan Integritas
    Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan bebrbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah keputusan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang kematian. Tahap integritas ini ini dimulai kira-kira usia sekitar 65 tahun, dimana orang-orang yang tengah berada pada usia itu sering disebut sebagai usia tua atau orang usia lanjut. Usia ini banyak menimbulkan masalah baru dalam kehidupan seseorang. Meskipun masih banyak waktu luang yang dapat dinikmati, namun karena penurunan fisik atau penyakit yang melemahkan telah membatasi kegiatan dan membuat orang tidak menrasa berdaya.

Menurut Erikson ada beberapa tekanan yang membuat orang usia tua ini menarik diri dari keterlibatan sosial

(1) ketika masa pensiun tiba dan lingkungan berubah, orang mungkin lepas dari peran dan aktifitas selama ini

(2) penyakit dan menurunnya kemampuan fisik dan mental, membuat ia terlalu memikirkan diri sendiri secara berlebihan

(3) orang-orang yang lebih muda disekitarnya cenderung menjauh darinya

(4) pada saat kematian semakin mendekat, oran ingin seperti ingin membuang semua hal yang bagi dirinya tidak bermanfaat lagi.

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Masa dewasa lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa dewasa akhir (60 ke atas). Perlu memperhatikan khusus bagi orangtuanya yang sudah menginjak lansia dan anaknya yang butuh dukungan juga untuk menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab. Di samping itu permasalahan dari diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda penuaan yang cukup menyita perhatian.
Pada masa dewasa akhir, ada beberaa erkembangan yang kita alami. Diantaranya adalah perkembanagn fisik, perkembangan kognitif, perkembangan psikis dan intelektual, perkembangan emosional, perkembangan minat, dan perkembangan kepribadian.

Menurut erikson ada 3 gejala penting pada perkembangan psikososial pada masa dewasa akhir, yaitu perkembangan keintiman, perkembangan generative, dan perkembangan integritas

DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2102731-teori-perkembangan-psikososial-erik-erikson/

http://www.psycholovegy.com/2012/05/masa-perkembangan-manusia-dewasa-akhir.html

http://www.masbow.com/2010/09/perkembangan-dewasa-akhir.html