Praktikum Biokimia: Penentuan Kadar Hemoglobin (Hb)


LAPORAN PENENTUAN KADAR HB 

Penanggung Jawab : Raafi’ud Darajat

  1. TUJUAN
  1. Mengetahui kadar HB dengan metode sahli
  2. Mengetahui kadar HB dengan metode fotometrik
  1. PRINSIP
  1. Hb diubah menjadi hematin asam kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar pada hemometer.
  2. Darah dicampur dengan larutan drabkin, ferysianida akan mengoksidasi HB menjadi met HB akan berikatan dengan cyanide menjadi cyan met.HB
  1. TINJAUAN PUSTAKA

Hemoglobin merupakan protein yang mengandung zat besi dan memiliki afinitas terhadap oksigen untuk mmebentuk oksihemaglobin didalam eritrosit. Dari mekanisme tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulma menuju jaringan (Pearce, 1991). Pada hemoglobin manusia dewasa normal (hemoglobin A), terdapat 2 jenis rantai polipeptida yang dinamakan rantai α dan rantai β. Pada rantai α, masing-masing mengandung141 gugus asam amino, sedangkan pada rantai β masing-masing mengandung 146 rantai asam amino. Sehingga hemoglobin A dinamai α2β2. Akan tetapi tidak semua hemoglobin dalam darah dewasa normal merupakan hemoglobin A, sekitar 2,5% hemoglobin merupakan hemoglobin A2, tempat rantai β diganti oleh rantai δ (α2δ2) (Hanong, 2001). Adanya hemoglobin dalam darah ini menyebabkan eritrosit berwarna merah, karena hemoglobin merupakan penyususn 30% dari total isi eritrosit (Mutshler, 1991).Hemoglobin mempunyai berat molekul penyususn 64.450 dan merupakan suatu molekul yang dibentuk oleh 4 rantai polipeptida, dimana pada tiap polipeptida melekat pada gugus heme.Heme adalah suatu turunan porfirin yang mengandung besi (Fe).Polipeptida ini dinamai secara bersama sebagai bagian dari globin dari molekul hemoglobin. Adapun fungsi dari hemoglobin ini sebagai alat transportasi )2 serta membawa hasil akhir proses respirasi CO2.

Ada beberapa metode pemeriksaan hemoglobin.Diantara metode pemeriksaan hemoglobin yang paling sering digunakan di laboratorium dan yang paling sederhana adalah metode sahli, dan yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin (Bachyar, 2002).

Prinsip metode sahli adalah hemoglobin dalam darah oleh HCl menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat tersebut.Metode sahli kurang naik karena tidak semua jenis HB dapat diubah menjadi asam hematin seperti karboksi methemoglobin, sulfathemoglobin.

Metode cyanmethemoglobin

Hemoglobin diubah menjadi cyanmethemoglobin dalam larutan yang berisi larutan kalium ferfisi anida dan kalium sianida. Absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang nm atau filter hijau. Larutan drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah menjadi cyanmethemoglobin (L. Gandasebrata, 1984).

  1. ALAT DAN BAHAN

Alat :

Hemoglobinometer sahli :  –  standar hemoglobin dengan warna pembanding

–     Tabung HB berskala

–     Aspirator

–     Spatula pipet Pasteur

–     Pipet sahli volume 20 mm 3 (20 mikro liter = 0,02 ml)

Cyamethemoglobin           : – foto meter, tabung reaksi, pipet

Bahan :

Metode sahli : HCl 0,1 N, aquades

Metode cyanmeth : larutan probkin, darah

  1. CARA KERJA
  1. Metode cyanmethemoglobin

5 ml pereaksi probkin

 

+ 20 mikro l (0,02 ml) darah

Campur dengan cara memutar tabung

Diamkan 10 menit

Baca pada foto meter λ 546 nm F 36,8

  1. Metode sahli

5 tetes HCl 0,1 sampai tanda merah

 

Masukkan 20 ml darah menggunakan pipet dan selang sahli

Diamkan 3 menit

 

+ aquades tetes demi tetes, hingga berwarna sesuai standar

Baca kadar HB dengan melihat volume dalam tabung reaksi sahli

  1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pemeriksaan kadar HB

Kel ompok

Metode sahli kadar HB

Keterangan

Metode cyanmet kadar HB

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

13,92

9,54

18

16

10,6

22

18

16

16,8

15,4

Tidak normal

Tidak normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Tidak normal

Normal

Normal

Normal

15,4

14,09

15,77

12,88

12,61

12,8

10,7

14,7

15,4

15,87

Normal

Normal

Normal

Tidak normal

Tidak normal

Tidak normal

Tidak normal

Normal

Normal

Normal

  1. Table pengamatan
No Sampel Perlakuan Gambar/Hasil Praktikan Keterangan
1.

2.

Pereaksi probkin

Darah

Ambil 5 ml preaksi probkin

Ambil 20 µl (0,02 ml) darah

Campur dengan memutar tabung

Diamkan 10’

Baca pada fotometer λ 546 nm f 36,8

Mengambil 5ml pereaksi probkin

Ambil darah sebanyak 20 µl dengan mikropipet

Tabung diputar supaya darah & pereaksi problin tercampur

Diamkan selama 10 menit

Dibaca pada fotometer panjang gelombang 546 nm f 36,8 hasilnya 12,88

  1. Metode Sahli
No Sampel Perlakuan Hasil Perlakuan Keterangan
1.

2.

HCl

Darah

Masukkan 5 tetes HCl 0,1 N (sampai tanda merah)

Masukkan 20 ml darah menggunakan pipet dan selang sahli

Diamkan 3 menit

Ditambahkan aquades tetes demi tetes hingga warna sesuai standar

Baca kadar HB dengan melihat volume dalam tabung reaksi sahli

Aquades

Masukkan 5 tetes HCl 0,1 N (sampai tanda merah)

Memasukkan  darah sebanyak 20 ml menggunakan pipet dan selang sahli

Diamkan 3 menit

Menambahkan aquades tetes demi tetes hingga warna sesuai standar

Dibaca kadar HB dengan melihat volume dalam tabung reaksi sahli

  1. PEMBAHASAN

Hemoglobin adalah molekul protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru.

Pada praktikum kali ini, digunakan 2 metode, metode cyanmethomoglobin dan metode sahli.Metode cyanmethoglobin lebih banyak digunakan dan merupakan metode rujukan.Dalam percobaan ini kami menggunkan darah pria dewasa, dimana darah yang diperlukan untuk percobaan sebanyak 20 mikro liter. Terlebih dahulu ambil 5 ml pereaksi drobkin kemudian untuk percobaan sebanyak 20 mikro liter darah dengan cara memutar tabung reaksi, diamkan selama 10 menit lalu baca dengan fotometer, didapatkan hasil dari percobaan kelompok kami mengukur kadar HB dnegan metode cyan methemoglobin yakni 12,88 (tidak normal).

Selanjutnya metode sahli, metode sahli mengandalkan pembentukan asam hematin yang kemudian diukur kadarnya dengan cara membandingkan warna hasil pengenceran dengan warna standar. Pada langkah-langkah cara kerja menggunakan metode sahli, 5 tetes HCl 0,1 sampai tanda merah (tabung reaksi sahli), tambahkan 20 ml darah dengan cara mengambilnya menggunakan pipet hisap, diamkan selama 3 menit, tambahkan lagi aquades tetes demi tetes hingga berwarna sesuai standar. Penggunaan HCl dipraktikum ini, bertujuan untuk meliliskan eritrosit sehingga Hb yang terdapat dalam eritrosit dapat keluar dan bereaksi dnegan HCl membentuk asam hematin. Dari hasil praktikum penentuan kadar HB menggunakan metode sahli, kelompok kami mendapatkan hasil 16 (normal). Metode sahli membutuhkan ketelitian visualisasi praktikan dalam mmebandingkan warna yang diperoleh dari pengenceran dengan warna standar.

  1. KESIMPULAN

–       Dalam pennetuan kadar HB, metode cyanmethemoglobin lebih akurat dibandingkan metode sahli, disebabkan karena metode sahli membutuhkan ketelitian visualisasi dalam mebandingkan warna yang diperoleh, sedangkan metode cyanmethemoglobin keakuratan lebih bagus, sehingga menjadi metode rujukan.

–       Kadar hemoglobin normal untuk pria adalah 14 – 18, sedangkan kadar hemoglobin normal untuk wanita adalah 12 – 15.

–       Kadar hemoglobin yang tinggi disebabkan karena keadaan hemokonsentrasi akibat dari dehidrasi, sedangkan kadar hemoglobin rendah berkaitan dengan berbagai masalah klinis. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin tidak selamanya meningkat atau menurun secara bersamaan.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Ganong, W.F. 2001. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Pearce, C.E. 1991. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kee, L.J. 1997. Pengukuran Kadar Hemoglobin.http://widablog.blogspot.com/2011/11/pengukuran-kadar-hemoglobin.html

Bachyar. 2002. Metode Pemeriksaan Hemoglobin. http://www.psychoplogymania.com/2012/o9/metode-pemeriksaan-hemoglobin.html

Iklan

Laporan Praktikum Pemeriksaan Darah


  1. A.           Tujuan
    1. Mengetahui cara memisahkan plasma dan endapan darah
    2. Mengetahui cara memisahkan fibrin dan serum
    3. Mengetahui kandungan globulin dalam serum
    4. Mengetahui kandungan albumin dalam serum
  1. B.            Prinsip
    1. Mahasiswa mampu memisahkan plasma dan endapan darah menggunakan centrifuge
    2. Mahasiswa mampu memisahkan fibrin untuk mendapatkan serum darah.
    3. Mahasiswa mampu memisahkan kadar protein globulin dalam serum dengan menggunakan metode setting out dan melakukan tes biuret untuk uji kadar protein
    4. Mahasiswa mampu menganalisis kadar protein albumin dalam serum dengan menggunakan metode salting out dan melakukan tes biuret untuk uji kadar protein.
  1. C.           Tinjauan Pustaka

Darah bersifat alkalis lemah dengan Ph 7,36 berfungsi sebagai alat transport zat-zat terutama O2, mengatur reaksi-reaksi tubuh supaya konstan, untuk regulasi panas badan dan pelindung terhadap kemungkinan infeksi. Darah terdiri dari sel darah (eritrosit, leukosit, trombosit) dan plasma darah (fibrinogen, serum darah yang terdiri dari albumin dan globulin

Darah

Plasma Darah

Fibrin

Serum

  • Ø Albumin
  • Ø Globulin
  • Ø Trombosit
  • Ø Eritrosit
  • Ø Leukosit

Endapan Darah (Packel Cell)

Sampel darah yang akan ditentukan dapat berupa darah, plasma darah, serum darah. Plasma darah adalah darah minus sel-sel darah dan masih mengandung fibrinogen.Dalam plasma terdapat anti koagulen yang sengaja ditambahkan guna mencegah penjendalam.Plasma tanpa fibrinogen disebut serum dan tidak mengandung bahan koagulan (Setyaningrum, 2002).

Plasma darah mengandung beberapa senyawa baik anorganik maupun organik yang meliputi antara lain : Protein darah, sari makanan, garam mineral, getah secret sel seperti enzim, hormon, zat-zat ekskresi.

Plasma darah (7%), meliputi :

Fibrinogen : Untuk pembekuan darah (0,3%)

Albumin     : Menjaga tekanan osmotic darah    (4%)

Globulin     : Membentuk zatkebal/zat antibiodi (2,7%)

Berdasarkan kerjanya zat anti (anti body) dibedakan :

  • Prepsipitasi        : kerjanya mengendapkan darah
  • Aglutinasi          : menggumpulkan
  • Netralisasi         :antigenik menutup tempat yang tosik (beracun)
  • Lisin                  : menyerang dan memecah antigen
  • Antitoksin         : menetralkan racun (Aden bagus, 2011)

Istilah penting lain dalam plasma darah yaitu:

Serum           : Cairan darah/plasma yang tidak mengandung Fibrinogen(komponen pembeku darah).

Anti body     : Protein yang dapat mengenali dan mengikat antigen (proteinasing) tertentu.

Antigen        : Molekul protein asing yang tidak dikenal yang masuk keplasma darah.

Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimen dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptide ( Maura Maulina, 2012).

Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100 mg darah yang dinyatakan dalam (%). Leukosit (White Blood Cell/WBC) merupakan komponen darah yang berperan dalam memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolic toksin, dll. Trombosit (platelet) merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Eritrosit (Red Blood Cell/RBC) merupakan komponen darah yang paling banyak dan berfungsi sebagai pengangkut/pembawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan membawa karbon dioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.

Laju endap darah adalah kecepatan zedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku dengan satuan mn/jam(Ridwan, 2012).

Fungsi darah :

  • Membawa produk sisa metabolism sel ke organ yang akan mengekskresikannya.
  • Melawan infeksi (leukosit dan antibodi)
  • Membawa zat yang dibutuhkan kelenjar untuk menghasilkan sekret
  • Mendistribusikan secret kelenjar dan enzim.
  • Mendistribusikan panas ke seluruh tubuh.
  • Menjaga asam-basa darah
  • Menghentikan perederan (proses pembekuan)(Almas, 2012).
  1. D.           Alat Dan Bahan
Alat :

  • Ø Centrifuge
  • Ø Corong
  • Ø Tabung reaksi
  • Ø Rak tabung reaksi
  • Ø Kertas saring
  • Ø Gelas bekker
  • Ø Mikro pipel + selotip
Bahan :

  • Ø Sampel darah
  • Ø Larutan biuret
  • Ø Larutan NaCl 0,9 % 15 ml
  • Ø Larutan CaCl 20 % 5 tetes
  • Ø Larutan (NH4)2 SO4 22 % 2 ml
  • Ø Larutan NaCl 1 % 20 ml
  1. E.            Cara Kerja
    1. Pemisahan plasma dan endapan

3 ml darah

–   endapan

–   Plasma          untuk percobaan 2

Di CeNtrifuge      selama 10 – 15 menit dengan kecepatan 1500 rpm.

–   Plasma          untuk pe      (sel darah)

1 ml plasma (menggunakan plasma)

+ 15 ml Nacl 0,9 %

+ 5 tetes Cacl 20%

Fitrat (Serum)

Endapan (fibrin)

Pemisahan Fibrin dan Serum

  1. Pemeriksaan globulin dan albumin(salting out)
    1. Globulin

1 ml serum

+ 2 ml (NH1)2 SO4 22%

Fitrat globulin

endapan

Di saring menggunakan kertas saring

endapan

Fitrat             untuk percobaan b

Bilas endapan dengan NaCl 1 % ± 20 ml

Tes biuret hingga berwarna biru muda          catat jumlah tetes biuret

Diamkan ± 30 menit

  1. Albumin

Fitrat Globulin

Ukur Volumenya

 Fitrat

endapan

 Fitrat

endapan

+ (NH4)2 SO4 22% 1:1

Air  (larutkan endapan dalam air)

Tes protein dengan biuret tetes demi tetes hingga berwarna biru muda (catat jumlah tetes biuret)

  1. F.            Hasil Pengamatan
    1. Pemeriksaan Plasma dengan Endapan

No

Nama Sampel

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Keterangan

1.

Darah Vena(3 ml)

Dipisahkan antaraplasmadenganendapan menggunakan centrifuge selama 10-15 menit dengan kecepatan 1500 rpm

3 ml sampel darah

centrifuge

–   Plasma

–   endapan

 

Setelah sampel vena (Darah) di centrifuge selama 10-15’ dengan kecepatan 1500 rpm akun mengalami pemisahan antara plasmadarah denganendapannya.
  1. Pemisahan Fibrin dengan Serum

No.

Nama Sampel

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Keterangan

1. Plasma (1 ml) Sampel plasma di tambahkan 15 ml Nacl 0,9 % dan 5 tetes Cacl 20% kemudian didiamkan selama ± 30 menit

1 ml plasma

Ditambah

15 ml Nacl

5 tetes Cacl

Didiamkan 30 menit

Fitrat

endapan

1 ml serum

1 ml plasma diambil lalu ditambahkan 15 ml Nacl dan 5 tetes Cacl, didiamkan selama 30 menit, maka terjadilah endapan. Fitrat adalah serum dan endapan adalah fibrm.
  1. Pemeriksaan Globulin dan Albumin
    1. Globulin
No. Nama Sampel

perlakuan

Hasil pengamatan

keterangan

1. Serum (1 ml) Sampel serum (1 ml) ditambah 2 ml (N H4)2 SO4 22% lalu didiamkan ± 30 menit setelah itu disaring dengan kertas saring, lalu di bilas dengan Nacl dan di tetesi biuret sampai biru.

1 ml serum

Di tambah 2 ml NH4

Di diamkan ± 30 menit

Fitrat

endapan

 

1 ml serum diambil lalu didiamkan 2 ml (NH4)2 SO4 didiamkan ± 30 menit, maka terjadi endapan lalu dilung endapan di bilas dengan Nacl 1% 20 ml tertinggal di saringan lalu di tetesi biuret hingga berubah warna menjadi biru muda

 

  1. G.           Pembahasan

Darah bersifat alkalis lemah dengan Ph 7,36 dan berfungsi sebagai alat transportasi zat-zat terutama O2, mengatur reaksi-reaksi tubuh supaya konstan, untuk regulasi panas badan dan pelindung terhadap kemungkinan infeksi. Darah terdiri dari sel darah (eritrosit, leukosit, trombosit) dan plasma darah (fibrinogen, yaitu serum darah yang terdiri dari albumin dan globulin).Pada praktikum ini, kami menggunakan sampel darah yang sebanyak 3 ml yang diambil dari salah satu anggota kelompok. Sampel darah tersebut diletakkan pada tabung reaksi dan disentrifuge selama 10-15 menit dengan kecepatan 1500 rpm (rotate per menit), setelah disentrifugasi, plasma darah akan terpisah dengan endapan. Karena, jika darah diputar pada sentrifuge maka zat protein tersebut akan mengendap dan terpisah sebagai endapan darah. Sisanya, berupa cairan bening/jernih yang disebut plasma.Plasma darah terpisah, karena pada endapan darah terkandung protein yang berperan dalam pembekuan darah.Selanjutnya, dilakukan pemisahan antara fibrin dan serum. Pemisahan dilakukan dengan menambahkan 2 ml plasma dengan 15ml Nacl 0,9% dan 5 tetes Cacl 20% setelah itu didiamkan kurang lebih 30 menit, sehingga terbentuk endapan gel di dalam gelas beker. Pada penelitian kami, terdapat endapan gel dan sedikit cairan di dalam gelas beker. Gel tersebut adalah fibrin, dan cairan sisanya adalah serum. Adapun fibrinogen berfungsi untuk pembekuan darah. Saat terjadi luka, benang-benang  fibrin akan terbentuk dan membentuk anyaman untuk menjaring sel darah dan menutupi luka. Sifat fibrinogen yang membekukan darah membuatnya berubah menjadi gel dan berpisah dari serum.

Prosedur kerjanya ketiga adalah pemisahan globulin dan albumin.Di dalam serum terdapat protein albumin dan globulin.Untuk mendapatkan atau menentukan adanya globulin ditambahkan (NH4)2 SO4 22% (ammonium sulfat jenuh).Prosedur ini untuk memisahkan protein dengan salting out.Protein mempunyai struktur yang tidak stabil sehingga mudah mengalami denaturasi yang meliputi presipitasi dan koagulasi.Albumin merupakan protein yang larut dalam air sedangkan globulin mempunyai sukar larut dalam air. Akan tetapi di dalam serum yang mengandung kedua protein (albumin dan globulin) ini ditambahkan garam ammonium sulfat 22%, maka protein akan terdenaturasi atau daya larut globulin akan berkurang sehingga globulin akan terpisah sebagai endapan. Denaturasi protein ini dipengaruhi adanya garam logam berat, Ph, panas, perubahan tipe pelarut dan lain sebagainya.Pada denaturasi terjadi perubahan terhadap struktur sekunder ternier, dan kuartener.Molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan kovalen sehingga terkadang dapat berlangsung secara rifersebel dan dapat mengalami metanuvasi atau penyusunan kembali molekul protein. Dimana globulin akan mengendap pada penambahan amonium sulfat 22% sedangkan albumin akan larut pada penambahan amonium sulfat 22%. Pengendapan dapat terjadi karena saat amonium sulfat 22% ditambahkan pada serum, ion-ion garam amonium sulfat menarik molekul air dan albumin menjauh dari globulin. Hal ini disebabkan ion-ion pada garam amonium sulfat memiliki muatan berat jenis yang lebih besar dibandingkan protein, sehingga ketika ditambahkan akan berikatan dengan molekul air dan albumin yang dapat memaksa globulin berinteraksi, dan ketika menambahkan amonium sulfat dalam jumlah cukup menyebabkan terpresifitasi. Setelah protes ini, akan didapatkan endapan globulin yang akan disaring dengan kertas saring dan diperoleh fitrat yang akan digunakan untuk pengujian albumin. Dengan analisis nitrogen dalam fitrat, setelah pemisahan tersebut, diperoleh albumin dalam serum. Karena sifat albumin yang tidak larut atau mengendap dalam amonium sulfat jenuh atau larutan  garam yang sangat pekat, maka setelah fitrat ditambah (NH4)2 SO4 22% diperoleh endapan gel. Kemudian, masing-masing endapan dilakukan pemisahan, pemisahan globulin dilakukan dengan menuangkan cairan pada corong yang telah diberi kertas saring dan dibawahnya terletak gelas beker, endapan berupa gel akan tersangkut pada kertas saring dan fitratnya akan mengalir ke beker gelas. Endapan berupa gel tersebut kemudian dibilas menggunakan pelarut Nacl 1 % (sifat globulin larut dalam larutan garam encer) dengan volume kurang lebih 20 ml. Larutan  ini kemudian ditetesi menggunakan biuret untuk membuktikan adanya protein dalam darah. Apabila setelah diberi tetesan biuret, larutan berubah warna menjadi warna biru muda, darah pasitif mengandung protein globulin.

Untuk albumin, dilarutkan dalam air (sifat albumin larut dalam air) dan di lakukan uji biuret.Pertama, ukur volume fitrat globulin dan tambahkan dengan (NH4) SO4 22%, kemudian diamkan hingga 30 menit.Selain itu, saring cairan menggunakan kertas saring. Endapan yang tersisa pada kertas saring itulah yang akan dilarutkan ke dalam air sebanyak 20 ml, dan dilakukan uji biuret. Apabila setelah diberi tetes biuret berubah warna menjadi biru muda berarti darah positif  mengandung albumin. Dari kedua percobaan diperoleh menjadi hasil positif uji biuret, perubahan warna bias terjadi karena biuret bereaksi terhadap ikatan popride pada protein.

Hitunglah seberapa banyak tetesan biuret tersebut, semakin banyak tetesan biuret tersebut, semakin banyak tetesan biuret, maka semakin sedikit kadar proteinnya. Sebaliknya, semakin sedikit tetesan biuret maka semakin banyak kadar proteinnya.

Dalam parktikum kami tetesan biuret untuk pemeriksaan globulin sebanyak 65 dan untuk albumin 33 tetes.

  1. H.           Kesimpulan
    1. Cara memisahkan plasma dari endapan darah yaitu darah disentrifuge 10-15 menit dengan kecepatan 1000 rpm. Maka akan terlihat lapisan atas bening (plasma) dan bagian endapan darah.
    2. Cara memisahkan fibrin dan serum yaitu 1 ml plasma ditambah 15 ml Nacl 0,9% dan 5 tetes Cacl 20%, maka akan terjadi endapan. Fitrat adalah fibrin.
    3. Globulin dalam serum mengandung protein yang lebih sedikit dari albumin. Terbukti pada pemeriksaan endapan globulin yang ditetesi biuret membutuhkan 65 tetes.
    4. Albumin dalam serum mengandung protein yang lebih banyak. Terbukti pada pemeriksaan endapan albumin yang ditetesi biuret membutuhkan 33 tetes.

 

 

 

 

 

  1. I.              Daftar Pustaka

Bagus, Aden 2011. Pengertian globulin.

File:///D:/darah/pengertianglobulin.html14-03-2013

Alfinda, 2012. “Pemeriksaan Darah.

http://www.scribd.com/doc/96III017/pemeriksaan -Darah

Novia, Almas.2012.Fungsi darah. http://relovia.blogspot.com/2012/10/fungsi-darah.html14-03-2013

Lohninger, Albert.2008.dasar-dasar Biokimia Jilid I.Jakarta:Erlangga

Peara, Evvelyn C.2006.Anatomi dan fisiologi untuk

paramedis.Jakarta:PT.Gramedia

Rahmawaty,Setyaningrum.2002.Petunjuk Praktikum Biokimia Gizi.

Ridwan.2012.Pengertian darah dan bagiannya.

WordPress.com/2012/08/12)

Pengertian darah dan bagiannya Maulina,

Maura.2012.Albumin.http://id.shvoong.com/social.scienca/psychology/2198689.

 

 


 

Laporan Biokimia Pemeriksaaan Kadar Asam Urat Darah


LAPORAN BIOKIMIA

PEMERIKSAAN KADAR ASAM URAT

 

  1. PENDAHULUAN
    1. Tujuan
      1. Mengetahui kadar sam urat dalam darah atau membuktikan adanya penyakit gout atau kelainan fungsi ginjal
    2. Prinsip
      1. Asam urat dioksidasi enzim uricase membentuk alantoin, CO², dan peroksida dengan bantuan enzim peroksidase, peroksida yang terbentuk akan bereaksi dengan 4 – aminoantipyrine dan 3.5- diclorosulfonate membentuk senyawa berwarna merah muda

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat ini biasanya akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi normal. Namun dalam kondisi tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara seimbang, sehingga terjadi kelebihan dalam darah. Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian dan tempat lainnya termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk kristal-kristal ( Anonim, 2011)¹.

Asam urat terutama disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Asam urat diangkut ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi sebagian sebelum akhirnya diekskresikan melalui urin. Peningkatan kadar asam urat dalam urin dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme purin, dan asupan diet makanan yang mengandung purin ( Hamdani, 2012)

Keadaan normal, setiap orang memiliki asam urat  di dalam tubuhnya, tapi jumlahnya sedikit. Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam tubuh, maka kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Kadar asam urat dalam darah adalah : a). Laki – laki 3,4-8,5 mg/dl; b). Perempuan 2,8-7,3 mg/dl; c). Anak-anak 2,0-5,5 mg/dl ( Antika, 2011).

Peningkatan kadar asam urat dalam darah disebut juga hiperurisema. Keadaan ini dapat menyebabkan penumpukan kristal asam urat disendi dan menimbulkan peradangan di daerah tersebut. Jenis gangguan seperti ini disebut artritis gout. Bahan makanan yang sebaiknya dihinadrai oarang denagn kadar asam urat tinggi adalah : a). Makanan berkadar purin tinggi, adalah jerohan ( hati, ginjal, otak, jantung), udang, remis kerang, ekstrak daging ( abon, dendeng), alkohol serta makanan kaleng. b). Makanan berkadar purin sedang seperti ikan, daging sapi, kerang-kerangan, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun pepaya, kangkung ( Cahyono, 2012).

Selain mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung purin dan  rajin minum air putih ( Anonim, 2010)².

 

  1. ALAT dan BAHAN
    1. Alat : mikropipet, tabung reaksi rak tabung reaksi, spektrofotometer.
    2. Bahan : plasma, reagen warna asam urat

 

  1. CARA KERJA

Pipet 20 µl ( 0,02 ml )

 

+ 1 ml reagen warna asam urat

 

Inkubasi ±10 menit pada temperatur 37ºC

 

Baca pada spetrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm F. 52,3

  1. HASIL PENGAMATAN
    1. Hasil pengamatan asam urat darah
Sampel Perlakuan Pengamatan Keterangan
Plasma A 20 µl ( 0,02 ml ) dimasukkan kedalam tabung reaksi Plasma yang diambil telah disentrifuge terlebih dahulu
Ditambah 1 ml reagen warna asam urat  

 

      + reagen

Asam

urat

 

Plasma telah tercampur dengan reagen asam urat, warna berubah menjadi pink pudar
Inkubasi selama±10 menit pada temperatur 37ºC

 

 

 

waterbath

Plasma yang telah tercampur dengan reagen diinkubasi dalam waterbath
  Hasil inkubasi dibaca pada spektrofotometer panjang gelombang 546nm. F. 52,3 Hasil pembacaan pada spektrofotometer menunjukkan kadar asam urat

 

  1. Hasil pemeriksaan kadar asam urat darah
Klp Sampel Kadar asam urat darah (mg/dl) Keterangan
I II Rata-rata
1. A 6,3 8 7,55 Tidak normal
2. A 2,3 3,5 2,9 Normal
3. A 3,5 2,6 3,05 Normal
4. B 2,3 2,6 2,45 Tidak normal
5. B 1,5 5,5 3,5 Normal
6. B 5,4 2,1 3,75 Normal
7. B 2,1 2,1 2,1 Tidak normal
8. A 2,4 4,6 3,5 Normal
9. A 2,3 2,9 2,6 Tidak normal
10. C 2,7 2,2 2,45 Normal

 

  1. PEMBAHASAN

Asam urat mengacu pada senyawa asam yang berbentuk kristal, yang merupakan hasil pemecahan senyawa purin. Senyawa purin sendiri berasal dari sel tubuh yang mati dn dari beberapa jenis makanan yang dikonsumsi manusia.

Untuk mengetahui kadar asam urat dalam darah dilakukan dengan pembacaan kadar asam urat pada spektrofotometer. Sebelum dibaca pada spektrofotometer diinkubasi selama 10 menit, yaitu campuran antara reagen asam urat dan plasma yang menghasilkan warna merah muda.

Kadar asam urat yang tinggi ditandai dengan hasil uji spektrofotometer pada tabel 1 yaitu 6,3 dan 8,2 dengan rata-rata 7,55 mg/dl. Namun pada sample yang sama didapat kadar asam urat yang normal, yaitu 2,3 dan 3,5 dengan rata-rata 2,9 mg/dl. Hal ini menunjukkan adanya kesaahan atau ketidaktelitian pada saat praktikum berlangsung.

Asam urat merupakan hasil metabolisme purin dalam tubuh. Asam urat dikeluarkan oleh ginjal berupa urin. Namun dalam kondisi tertentu ginjal tdak dapat berfungsi dengan baik, oleh karena itu zat asam urat tertimbun dalam tubuh, terutama ginjal dan persendian-persendian.

Kadar asam urat jika dirata-rata, sampel A didapat 3,96 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa sampel A tidak memiliki kadar asam urat dalam darah yang tinggi, karena masih dalam keadaan normal.

 

  1. KESIMPULAN
    1. Kadar asam urat hasil praktikum kelompok 1 dengan rata-rata 7,55 mg/dl memiliki kadar yang tidak normal.
    2. Nilai yang tidak normal dibandingkan nilai kadar asam urat sampel A yang lain dikarenakan kurang teliti dalam melakukan praktikum.
    3. Asam urat merupakan hasil metabolisme purin dalam tubuh.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

Anonim¹. 2011. Penyebab asam urat dan kolesterol. Diakses dari http://penyebabasamurat.com. Tanggal 5 April 2013 pukul 21.07 WIB

Anonim². 2010. Asam urat serum. Diakses dari http://labkesehatan.com. Tanggal 5 April 2013 pukul 08.45 WIB

Antika. 2011. Penyebab reumatik gout. Diases dari http://delpanantika.com. Tanggal 5 April 2013 pukul 08.47 WIB

Cahyono. 2012. Pengertian asam urat. Diakses dari http://www.penyakitasamurat.com . tanggal 8 April 2013 pukul 11.05 WIB

Hamadani. 2012. Kadar asam urat normal dalam darah. Diakses dari http://catatandokter.com. Tanggal 6 April 2013 pukul 15.31 WIB

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA DARAH


LAPORAN PRAKTIKUM

PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA DARAH

  1. PENDAHULUAN
    1. Tujuan
      1. Mengetahui kadar gula dala darah dengan metode spektofotometer
    2. Prinsip

Glukosa ditentukan setelah dioksidasi enzimatik dengan adanya glukosa oksidase. Hidrogen peroksida yan terbentuk bereaksi dengan phenol dan 4-aminophenazone dengan katalis peroksidase membentuk quinoneimine yang berwarna merah violet.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa, karena mempunyai sifat dapat memuta cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dala buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70 – 100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah dapat bertambah setelah kita makan-makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Pada penderita diabetes melitus, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah ( Podjiadi, 1994).

Gula darah pada orang sehat dikendalikan oleh insulin. Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas. Insulin membantu glukosa dalam darah masuk ke sel untuk menghasilkan tenaga. Gula darah yang  tinggi dapat berarti bahwa pankreas tidak memproduksi cukup insulin, atau jumlah insulin cukup namun tidak bereaksi secara normal. Hal ini disebut dengan resistensi insulin ( Girindra, 1989).

Level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa fatal, yang disebut dengan hipoglikemia, yang mempunyai gejala perasaan lelah, fungsi mental yang menurun, rasa mudah tersinggung dan kehilangan kesadaran. Apabila levenya tetap tinggi, disebut dengan hiperglikemia, nafsu makan akan tertekan untuk waktu yang singkat. Hiperglikemia dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan, berkaitan dengan diabetes, termasuk pada mata, ginjal dan saraf ( Anonim, 2010)¹.

Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk membutuhkan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di hati, kemudian sel-sel in mengubah glikogen menjadi glukosa ( Anonim, 2010)².

Metode pemeriksaan darah meliputi metode induksi enzimatik dan lainnya. Metode yang paling sering digunakan adalah metode enzimatik, yaitu metode Glukosa Oksidase (GOD) dan metode heksokinase. Metode GOD banyak digunakan pada saat ini. Akurasi dan presisi yang baik ( karena enzim GOD spesifik untuk reaksi pertama). Tetapi reaksi kedua rawan interfen ( tak spesifik). Interfen yang bisa menggangu antara lain bilirubin, asam urat dan asam askorbat. Harga normal dalam menentukan kadar glukosa darah adalah : 1). Kadar gula darah sewaktu : 60 – 120 mg/dl; 2). Kadar gula darah puasa : 50 – 100 mg/dl ( Hendromartono, 1998).

  1. ALAT dan BAHAN
    1. Alat : mikropipet, fotometer, inkubator ( waterbath), tabung reaksi, rak tabung reaksi
    2. Bahan : plasma darah vena, reagen warna glukosa
  1. CARA KERJA

Pipet plasma darah sebanyak 10 µl ( 0,01), masukkan kedalam tabung reaksi

Tambahkan dengan reagen warna glukosa 1000 µl ( 1 ml)

Inkubasi 10 menit dengan temperatur  37ºC

Baca pada fotometer dengan panjang gelombang 546 nm F 405

  1. HASIL PENGAMATAN
    1. Hasil pengamatan kadar glukosa darah
Sampel Perlakuan Pengamatan Keterangan
Plasma A 10 µl (0,01 ml) plasma darah dimasukkan ke dalam tabung reaksi Plasma darah yang diambil dengan mikropipet, telah disentrifuge sebelumnya
Ditambah dengan reagen warna glukosa 1 µl

( 1000 ml)     +reagen

warna

glukosaWarna plasma setelah di+ reagen, warna berubah menjadi merah muda (violet)Diinkubasi selama 10 menit

37ºC      inkubatorSetelah diinkubasi dalam waterbath, warna berubah menjadi merah muda tipisHasil inkubasi dibaca pada fotometer Hasil pembacaan pada fotometer, kadar glukosa darah plasma A 132 dan 126 mg/dl

  1. Hasil Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah

Klp

Sampel

Kadar Gua Darah mg/dl

Keterangan

I

II

Rata-rata

1.

A

132

126

129

Tidak normal

2.

A

120

112

116

Normal

3.

A

144

108

126

Tidak normal

4.

B

180

187

183,5

Tidak normal

5.

B

162

168

165

Tidak normal

6.

B

83

77

80

Normal

7.

B

154

142

148

Tidak normal

8.

A

73

91

82

Normal

9.

C

120

132

126

Tidak normal

10.

C

130

78

104

Normal

  1. PEMBAHASAN

Gula darah adala istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber energi untuk sel-sel tubuh. Meskipun disebut sebagi gula darah, selain glukosa, ditemukan juga jenisjenis gula lainnya, seperti glukosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa yang diatur insulin.

Metode yang digunakan pada saat praktikum adalah metode fotometer. Dengan menginkubasi sampel yang telah ditambah reagen warna glukosa1 ml dan dibaca pada fotometer denagn panjang gelombang 546 nm f.405 dihasilkan kadar gula darah plasma A kelompok 1 adalh 132 dan 126 dengan rata-rata 129 mg/dl. Pada praktikum dilakukan dua kali pengulangan, hal ini dilakukan untuk mengetahui kefalidan data yang diperoleh. Dari rata-rata 129 mg/dl, kadar gula dalam darah tidak normal. Hal ini dikarenakan kadar gula darah yang diperiksa tidak diketahui apakah pemilik darah sehabis mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat atau tidak, karena kadar gula darah yang dicek adalah kadar gula darah sewaktu bukan kadar gula darah puasa.

Warna merah violet ( pink ) dikarenakan hidrogen peroksida bereaksi dengan phenol dan 4 – aminophenazone dengan katalis peroksidase maka akakn membentuk quinoneimine yang berwarna violet.

Kadar glukosa dalam darah lebih akurat jika darah yang diambil merupakan kadar glukosa dalam keadaan puasa. Karena jika diambil pada saat tidak berpuasa terlebih dahulu, biasanya kadar gula dalam darah lebih tinggi.

  1. KESIMPULAN
    1. Hasil pengamatan pada praktikum kali ini adalah kadar glukosa darah sewaktu pada sampel A dengan rata-rata 129mg/dl, tidak normal.
    2. Pemeriksaan gula darah sewaktu tidak akurat dibandingkan dengan gula darah puasa.
  1. DAFTAR PUSTAKA

Anonim¹. 2010. Analisis Kadar Glukosa dalam Darah. Diakses dari http://sangbintang.wordpress.com. Tanggal 6 April 2013 pukul 14.10 WIB

Anonim². 2010. Gula Darah. Diakses dari http://laporanbiokimiadarah.blogspot.com. Tanggal 6 April 2013 pukul 15.03 WIB

Girindra, A. 1989. Biokimia Patologi. Bogor : ITB

Hendromartono, Consensus on the Management of Diabetes Mellitus (Perkeni 1998). In Surabaya Diabetes Update. VI. Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, dkk. Surabaya 1999 : 1 – 14

Peodjiadi, Anna. 1994. Dasar – dasar Biokimia. Jakarta : UI Press