MAKALAH KEKURANGAN VITAMIN A

MAKALAH KEKURANGAN VITAMIN A
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi
Dosen Pembimbing Drs. Joko Dwi Hastanto

logo-ums

Disusun Oleh
ITTAQ AMRI AZALISTA J300120061

PROGRAM STUDI GIZI D3 FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim
Assalamu’alaikum wr. wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kami diberikan kesehatan serta kemampuan sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah Komunikasi yang berjudul “Kekurangan Vitamin A” dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah Komunikasi dan sebagai persyaratan untuk memenuhi mata kuliah Komunikasi.
Dalam penulisan, penulis memperoleh bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : dosen pembimbing mata kuliah Komunikasi, orang tua yang telah mendukung dalam penulisan makalah, segenap teman-teman yang membantu pembuatan makalah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi yang lebih baik. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Surakarta, 13 Januari 2013

Penulis

 

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Vitamin A merupakan zat gizi yang penting (essensial) bagi manusia, karena zat gizi ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar. Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, vitamin A menngkatkan daya tahan tubuh. Tubuh memerlukan asupan vitamin yang cukup sebagai zat pengatur dan memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Sebagai vitamin yang larut lemak, vitamin A membangun selsel kulit dan memperbaiki sel-sel tubuh, menjaga dan melindungi kesehatan mata, menjaga tubuh dari infeksi, serta menjaga pertumbuhan tulang dan gigi. Karena fungsi tersebut, vitamin A sangat bagus dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
KVA merupakan suatu kondisi dimana mulai timbul gejala kekurangan konsumsi vitamin A. Defisiensi vitamin A dapat merupakan kekurangan primer akibat kurang konsumsi. KVA dapat pula disebut kekurangan sekunder apabila disebabkan oleh gangguan penyerapan dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, kebutuhan meningkat, atau karena gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A.
Kekurangan vitamin A masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama umur pada masa pertumbuhan (balita). Kekurangan vitamin A dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Kekurangan vitamin A dapat terjadi karena beberapa sebab antara lain konsumsi makanan yang tidak cukup vitamin A dan provitamin A untuk jangka waktu yang lama, bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif, menu yang tidak seimbang (kurang lemak, protein, zink atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin A dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, adanya gangguan penyerapan vitamin A dan provitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain diare kronik, KEP dan lain-lain sehingga kebutuhan vitamin A meningkat, adanya kerusakan hati yang menyebabkan gangguan pembentukan retinol binding protein (RBP) dan pre-albumin yang penting untuk penyerapan vitamin.
KVA sering timbul pada balita dan anak-anak. Di Indonesia, kecukupan gizi anak usia hingga tiga tahun seharusnya 350-400 RE per hari. Namun, dalam beberapa survei dikatakan bahwa 50% anak berusia 1-2 tahun tidak mengkonsumsi vitamin A dalam jumlah yang memadai karena faktor kemiskinan dan malnutrisi. Selama krisis ekonomi melanda Indonesia sejak tahun 1997, daya beli masyarakat menurun sehingga terjadi kecenderungan meningkatnya KVA pada ibu hamil dan balita.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi vitamin A ?
2. Bagaimana patofisiologi KVA ?
3. Apa akibat dari KVA ?
4. Bagaimana cara mencegah dan mengatasi KVA ?

C. TUJUAN
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan beberapa informasi mengenai KVA, cara pencegahannya dan penanggulangannya

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI VITAMIN A
Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak. Berdasarkan struktur kimianya disebut retinol atau retina atau disebut juga dengan asam retinoat, terdapat pada jaringan hewan dimana retinol 90-95% disimpan pada hati (Haryadi, 2009).
Vitamin A adalah slah satu zat gizi dan golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar dapat melihat dengan baik) dan untuk kesehatan tubuh (meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan penyakit, khususnya diare dan penyakit infeksi). Vitamin A atau berdasarkan struktur kimianya dibagi menjadi dua bentuk, yaitu :
1. Retinol
Retinol dapat dimanfaatkan langsung oleh tubuh karena umumnya sumber retinol diperoleh dar makanan hewani seperti telur, hati, munyak ikan yang mudah dicerna dalam tubuh.
2. Betacaritine
Sering disebut pro-vitamin A, baru dapat dirasakan setelah mengalami proses pengolahan menjadi retinol. Sumber betacarotene berasal dari makanan yang berwarna orange atau hijau tua, seperti wortel, bayam, ubi kuning, mangga dan pepaya.
Retinol atau Retinal atau juga Asam Retinoat, dikenal sebagai faktor pencegahan xeropthalmia, berfungsi untuk pertumbuhan sel epitel dan pengatur kepekaan rangsang sinar pada saraf mata, Jumlah yang dianjurkan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (KGA-2004) per hari 400 ug retinol untuk anak-anak dan dewasa 500 ug retinol.Tubuh menyimpan retinol dan betacarotene dalam hati dan mengambilnya jika tubuh memerlukannya (Iskandar, 2012).
Sumber vitamin A banyak terkandung dalam minyak ikan. Vitamin A1 (retinal) banyak terkandung dalam hati ikan laut. Vitamin A2 (retinol) atau 3-dehidro retinol, terutama terkandung dalam hati ikan tawar. Vitamin A yang berasal dari minyak ikan, sebagian besar ada dalam bentuk ester.
Vitamin A juga terkandung dalam bahan pangan, sperti mentega, kuning telur, keju, hati, daun hijau dan wortel. Warna hijau tubuh-tumbuhan merupakan petunjuk yang baik tingginya kadar karoten (Rijal, 2012).

B. PATOFISIOLOGI KVA
Beberapa penyakit akibat kekurangan vitamin A diantaranya adalah buta senja, xerosis konjuctiva, xerosis konjunctiva disertai bercak bitot, xerosis kornea, keratomalasia atau ulserasi kornea, jaringan parut, fundus xeraftalmia. Xeroftalmia adalah istilah yang menerangkan gangguan akibat kekurangan vitamin A pada mata, termasuk kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang berakibat kebutaan. Kata xeroftalmia (bahasa latin) berarti “mata kering”, karena terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjuctiva) dan selapt bening (kornea) mata (Wardani, 2012).
Xeroftalmia terjadi akibat tubuh kekurangan vitamin A. Bila ditinjau dari konsumsi makanan sehari-hari orang yang menderita KVA disebabkan oleh :
a. Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau pro-vitamin A untuk jangka waktu yang lama
b. Pada masa bayi tidak diberikan ASI eksklusif
c. Menu yang tidak seimbang, yang diperlukan untu penyerapan danpenggunaan vitamin A di dalam tubuh
d. Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau pro-vitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain, gangguan pada pankreas, diare kronik, KEP dan penyakit lainnya sehingga kebutuhan vitamin A meningkat
e. Adanya kerusakan hati, spert pada kwashiorkor dan hepatitis kronik yang memyebabkan gangguan pembentukan RBP dan penyerapan vitamin A. (Saputra, 2012).

1. Tanda – tanda dan Gejala Klinis
KVA adalah kelainan sistemik yang mempengaruhi jaringan epitel dari organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lain. Akan etapi gambaran gangguan secara fisik dapat langsung terlihat oleh mata.
Kelainan kuit pada umumnya terlihat pada tungkai baeah bagian depan dan lengan atas bagian belakang, kulit nampak kering dan bersisik. Kelainan ini selain diebabkan oleh KVA dapat juga disebabkan kekurangan asam lemak essensial, kurang vitamin golongan B atau KEP.
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama. gejala tersebut akan lebih cepat muncul jika menderita penyaki campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
Gejala klinis KVA pada mata menurut klasifikasi WHO sebagai berikut :

a). Buta senja = XN. Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina. Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang remang-remang setelah lama berada di cahaya yang terang. Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tidak dapat melihat lingkungan yang kurang cahaya.

b). Xerosis konjunctiva = XI A. Selaput lendir mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam.

c). Xerosis konjunctiva dan bercak bitot = XI B. Gejala XI B adalah tanda-tanda XI A ditambah dengan bercak bitot, yaitu bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama celah mata sisi luar. Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai sebagai penentuan prevalensi kurang vitamin A pada masyarakat. Dalam keadaan berat tanda-tanda pada XI B adalah, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjunctiva, konjunctiva tampak menebal, berlipat dan berkerut.

d). Xerosis kornea = X2. Kekeringan pada konjunctiva berlanjut sampai kornea, kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.

e). Keratomalasia dan Ulcus Kornea = X3 A ; X3 B. Kornea melunak seperti bubur dan dapat terjadi ulkus. Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea.
Keratomalasia dan tukak kornea dapat berakhir dengan perforasi dan prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang dapat menyebabkan kebutaan. Keadaan umum yang cepat memburuk dapat mengakibatkan keratomalasia dan ulkus kornea tanpa harus melalui tahap-tahap awal xeroftalmia.

f). Xeroftalmia Scar (XS) = jaringan parut kornea. Kornea tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil. Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik atau jaringan parut. Penderita menjadi buta yang sudah tidak dapat disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok kornea.

g). Xeroftalmia Fundus (XF). Tampak seperti cendol
XN, XI A, XI B, X2 biasanya dapat sembuh kembali normal dengan pengobatan yang baik. Pada stadium X2 merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera diobati karena dalam beberapa hari bisa menjadi keratomalasia. X3A dan X3 B bila diobati dapat sembuh tetapi dengan meninggalkan cacat yang bahkan dapat menyebabkan kebutaan total bila lesi pada kornea cukup luas sehingga menutupi seluruh kornea.
Prinsip dasar untuk mencegah xeroftalmia adalah memenuhi kebutuhan vitamin A yang cukup untuk tubuh serta mencegah penyakit infeksi. Selain itu perlu memperhatikan kesehatan secara umum (Wardani, 2012).

C. AKIBAT KEKURANGAN VITAMIN A
Tubuh memerlukan asupan vitamin yang cukup sebagai zat pengatur dan memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Sebagai vitamin yang larut dalam lemak, vitamin A membangun sel-sel kulit dan memperbaiki sel-sel tubuh, menjaga dan melindungi mata, menjaga tubuh dari infeksi, serta menjaga pertumbuhan tulang dan gigi. Karena fungsi tersebut, vitamin A sangat bagus dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Vitamin A juga berperan dalam epitil, misalnya pada epitil saluran pencernaan dan pernapasan serta kulit. Vitamin A berkaitan erat dengan kesehatan mata. Vitamin A membantu dalam hal integritas atau ketahanan retina serta menyehatkan bola mata. Vitamin A fungsinya tak secara langsung mengobati penderita minus, tapi bisa menghambat minus. Kekurangan vitamin A menyebabkan mata tak dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan cahaya yang masuk dalam retina. Sebagai konsekuensi awal terjadilah rabun senja, yaitu mata sulit melihat kala senja atau dapat juga terjadi saat memasuki ruangan gelap. Bila kekurangan vitamin A berkelanjutan maka anak akan mengalami xerophtalmia yang mengakibatkan kebutaan. Selain itu kekurangan vitamin A menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi bakteri dan virus. Tanpa vitamin A, sistem pertahanan tubuh akan hilang.Ini memicu tubuh rentan terserang penyakit.
Vitamin A bisa terserap dalam tubuh yang kondisinya baik. Anak usia balita sangat rentan kekurangan vitamin A karena kondisi tubuhnya rentan terhadap penyakit, seperti diare atau infeksi pencernaan. Untuk itu peran ibu sangat penting dalam menjaga ketahanan tubuh bayi yakni dengan memberikan ASI eksklusif, agar mempunyai ketahanan tubuh yang cukup.Kebutuhan vitamin A yang cukup dalam tubuh, dapat diketahui dengan cara menganalisis makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan melihat kondisi tubuh. Jika tubuh anak sering terkena penyakit, seperti diare, busung lapar atau gangguan saluran pernapasan, maka secara otomatis, asupan vitamin A-nya kurang (Zulkarnaen, 2012).

D. CARA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KVA
Melihat dampak yang dapat diakibatkan oleh kekurangan vitamin A seperti yang dijelaskan di atas, maka masalah defisiensi vitamin A ini tidak boleh diremehkan karena dapat menyebabkan kematian. Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa langkah yang harus terus dilakukan, antara lain :
a. Memperbaiki pola makan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan sehingga masyarakat kita semakin gemar mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.
b. Melakukan fortifikasi vitamin A terhadap beberapa bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat dengan memperhatikan syarat-syarat fortifikasi, missal tidak menyebabkan perubahan rasa pada bahan makanan tersebut atau tidak menyebabkan kenaikan harga yang terlalu tinggi. Contoh bahan makanan yang dapat dilakukan fortifikasi adalah pada MSG atau pada mie instant
c. Meningkatkan program pemberian suplemen vitamin A yang sudah berjalan pada kelompok sasaran yaitu :
1). Bayi umur 6-12 bulan : diberikan kapsul vitamin A warna biru, dosis 100.000 UI setiap bulan februari dan agustus.
2). Anak umur 1-5 tahun : diberikan kapsul vitamin A warna merah, dosis 200.00 UI setiap bulan februari dan agustus
3). Ibu nifas : diberikan kapsul vitamin A dosis 200.000 UI, sehari setelah melahirkan dan diberikan lagi 24 jam kemudian (masing-masing satu kapsul ).
4). Anak yang terserang campak : diberikan kapsul vitamin A dosis 200.000 UI.
d. Pemberian imunisasi pada anak harus terus dipantau supaya terhindar dari penyakit infeksi.
e. Mengkonsumsi makanan yang seimbang agar metabolisme vitamin A dalam tubuh dapat berjalan secara normal

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Kekurangan vitamin A diantaranya disebabkan karena konsumsi vitamin A yang kurang dari kebutuhan harian, terkena penyakit infeksi, dan kurangnya kesadaran mengenai pentingnya vitamin A untuk kesehatan tubuh dan mata.
2. Apabila gejala-gejala kekurangan vitamin A tidak segera diobati, maka akan menyebabkan penyakit atau gangguan pada mata yang lebih seris dan dapat menyebabkan kebutaan.

B. SARAN
1. Selain petugas kesehatan Pelatihan kader posyandu yang tepat juga diperlukan untuk melakukan penyuluhan atau melakukan survei pada setiap penduduk untuk mengetahui apakah ada keluarga yang anggotanya terkena KVA.
2. Promosi juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penambahan balita atau masyarakat terkena KVA, yatu dengan mengadakan penerbitan buletin kesehatan setiap minggu atau setiap bulan dan diberikan kepada masyarakat, untuk menambah kesadaran dan pengetahuan betapa pentingnya hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Haryadi, Hendri. 2011 . Makalah Kekurangan Vitamin A “Ilmu Gizi”. Diakses dari http://handri-haryadi.blogspot.com . tanggal 30 Desember 2013, pukul 19.51 WIB
Iskandar, Zulkarnaen. 2012. Kekurangan Vitamin A. Diakses dari http://kuliahiskandar.blogspot.com. Tanggal 30 Desember 2013, Pukul 20.03 WIB
Rijal, 2012. Makalah Kurang Vit A. Diakses dari http://muhsinrijal.blogspot.com. Tanggal 10 Januari 2014, Pukul 14.38 WIB
Wardani, Winda. 2009. Makalah kekurangan Vit A. Diakses dari http://windawardaini.blogspot.com. Tanggal 11 Januari 2014, Pukul 19.59 WIB
Saputra, Andi 2011. Penanggulangan Masalah Kekurangan Vitamin A. Diakses dari http://aandy-reasond.blogspot.com. Tanggal 09 Januari 2014, Pukul 21.45 WIB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s